No Free Lunch !

Kopipagi.online-Alkisah, ada sebuah desa, yang lagi ketiban musibah….Tiap malem, kebun jagung warga, habis dibabat rombongan Babi Hutan…ya, desa ini memang letaknya terpencil, bersebelahan dengan hutan yang masih perawan ting ting alias masih lebat…

Berbagai upaya, sudah dilakukan warga…Pasang perangkap, sampai kegiatan rame rame berburu Babi tiap minggu…namun, semuanya nggak ada hasil signifikan….paling serbuan Babi Hutan, reda cuman hitungan beberapa minggu…setelah itu, serangan tambah menggila…walahhhh !!!

Ditengah kuputus asaan itu, sang Kades alias Kepala Desa membuat sayembara di kota terdekat…barangsiapa bisa menumpas Babi Hutan itu, akan dapat imbalan yang lumayan…hadianya bukan Putri raja, kayak di dongeng2 yah…ini Kadesnya, cuman punya anak cowok…masih ingusan lagi…pipis juga belum lempeng…hehehe..

Nah, sayembara direspon sama club berburu dari kota sekitarnya…Dengan gagah, datang mengendarai kuda, menyandang senapan laras panjang, lengkap sama telescopenya segala  : 7 pemburu berpengalaman, menemui Sang Kades…”Pak Kades, tunjukkan Hutan sebelah mana, Babi Liar itu datang…kami akan hajar semuanya” kata salah satu pemburu arogan.

Saat itu juga, rombongan pemburu ini, melesat masuk ke Hutan, ke arah yang ditunjuk sang kades…
Sehari berlalu, dua hari, seminggu, dua minggu…akhirnya di minggu ke-3, pemburu datang menemui Sang Kades…”Babi Babi Hutan itu, terlalu banyak & terlalu liar sekali…tak mungkin kami bisa habisi semunya…kami menyerah !” Kata si pemburu sambil balik badan pulang, tanpa pesan…

Dan, serbuan Babi Hutan tetap berlanjut…memporakporandakan ladang warga…

Nah, ditengah “Gegana”-nya Pak Kades & Warga Desa…alias Gelisah Galau Merana…Dus, datang seorang Kakek Tua, naik pedati yang ditarik dua ekor sapi, sendirian…kluntung…kluntung…kluntung…menemui Pak Kades….
“Saya akan ikut sayembara !” Kata Pak Tua ini….
“Bapak mau menghabisi kawanan Babi Hutan disini,  sendirian ?” Pak Kadespun terheran heran…Bahkan, seorang warga, nyeletuk…”Pak Tua…sudahlah…diluar banyak angiiinnnnn….Pak Tua…sudahlah…Para pemburu top aja, nginep 3 minggu di Hutan, & gagal…Ini, terlalu berat, buat Bapak”

“Nak…dengan yang aku bawa ini, aku sudah siap menangkap seluruh Babi Hutan yang mengganggu warga dusun sini…sudah, tunjukkan saja, dimana arah Babi Hutan itu datang…” kata Pak Tua tenang.

Pedati itu, penuh dengan palawija, dan setumpuk bambu bambu sepanjang hampir 3 meteran…jauh lebih panjang dari pedatinya.

Singkat cerita, hari pertama, Pak Tua hanya menumpuk palawija, di tengah lapangan, yang menjadi “rute” Babi Liar dari Hutan menuju kebun jagung warga. Pak Tua sendiri, sembuyi diatas pohon disekitarnya sambil mengawasi umpannya.

Dini Hari, tepatnya sekitar pukul 01.33 pagi…mulai muncul seekor Babi Hutan yang hendak cari makanan ke kebun warga…kemudian diikuti lainnya, trus lainnya lagi, trus lainnya lagi…sampi sekitar sepuluh ekor Babi Liar…namun, Babi Liar ini, berhenti beberapa langkah dari tumpukan palawija yang ditumpuk di tengah lapangan, di tengah rute perjalanan menuju kebun warga….agak curiga… “hmmm…belum pernah ada “hidangan” di tengah lapangan seperti ini” pikir si Babi…Dengan ragu ragu…seekor Babi mendekat lalu mulai menyantap….Tak berapa lama, diikuti lainnya, trus menyusul belakangnya lagi…Dan, ternyata…muncul rombongan besar Babi Liar, yang jumlahnya bisa sampai tujuh puluhan babi hutan…wouwww…warbiasaaaahhh !!!
Seluruh rombongan Babi liar itu, pesta pora ditengah lapangan…
“Yesss…ketangkap kau Babi !” Gumam Pak Tua dipersembuyiannya…

Esok harinya, Pak Tua, kembali meletakkan setumpuk palawija, dan kali ini ditambahkan : 4 tiang yang ditancapkan di tiap sudut, berjarak sekitar 9 meter, mengelilingi umpan palawija itu… Setelah beres “setting” semuanya itu, Pak Tua tidak begadang mengintai umpannya, tapi ditinggal tidur di rumah warga terdekat…

Malem harinya…Rombongan Babi liar, kembali menemukan umpan palawijanya pak Tua itu, dan siap untuk menyantapnya…”Eeeiiittt…koq ada 4 tiang tertancap di tanah…bukannya, kemarin malem nggak ada yah…”pikir si Babi bimbang…Namun, bayangan, pesta pora, makan besar kemarin malem tanpa harus susah payah di kebun warga, menggoda pikiran….dus, akhirnya, Babi liar ini pesta pora lagi seperti malam sebelumnya.

Esok harinya, Pak Tua, kembali menumpuk umpan palawija, & kali ini ditambahkan tumpukan bambu di sebelahnya…Malemnya, lagi-lagi Si Babi Liar bimbang sebelum menyantap umpan…”Kemarin, nggak ada tumpukan bambu,”pikirnya…tapi, sekali lagi…banyangan makan siang gratis malam sebelumnya, membuat rombongan Babi liar ini memberanikan diri menghajar hidangan umpan palawaija itu…

Esok harinya, Pak Tua, mulai memasang 2 kayu di 3 sisi dari 4 tiang yang tertancap ditanah…sisi kiri, sisi kanan, & belakang…sementara, sisi yang menghadap ke arah Hutan, arah datangnya Babi Liar, tidak dipasang bambu…

Malemnya, Umpan kembali dijarah habis tak tersisa oleh rombongan Babi liar…

Esoknya, Pak Tua, kembali menumpuk umpan palawija dengan menambahkan 2 kayu di 3 sisi, melanjutkan malem sebelumnya…..begitu seterusnya, tiap hari, membentuk dinding dari bambu, dan seterusnya..Dan awal awalnya, tiap kali rombongan Babi Hutan itu datang, mereka s’lalu bimbang sejenak…namun, begitu terbiasa dengan makan gratis, dus menginjak bulan kedua, mereka tidak pernah bimbang lagi…begitu kelur Hutan, ketemu umpan palawijanya, langsung hajar !!!

Nah, di hari ke 90…Akhirnya, bambu bambu, yang dengan sabar disusun satu persatu oleh Pak Tua tiap hari, telah berbentuk sebuah kandang besar dengan lebar 9 meter, panjang 9 meter…dengan pintu terbuka selebar 6 meter yang menghadap ke arah hutan.

Pak Tua, kembali menumpuk umpan palawija di tempa yang sama, yang saat ini, berarti tepat di tengah sebuah kandang besar !

Malem ini, pak Tua menunggui umpannya…naik diatas pohon yang tidak jauh dari situ….Dan, seperti malam malam sebelumnya….Rombongan Babi liar itu, keluar dari Hutan, berbondong bondong masuk ke kandang, menyantap umpan, tanpa curiga sedikitpun…persis kayak kawanan hewan ternak yang masuk kandang untuk menjemput makanan…Bergegas, Pak Tua, turun dari persembuyiannya, dan menutup pintu kandang, tanpa perlawanan !

Esok, paginya, Pak Tua menemui Pak Kades. “Sudah kutangkap, seluruh kawanan Babi Hutan yang meresahkan wargamu. Aku kandangkan di tengah lapangan di tepi hutan sana”. Lapor Pak Tua

Nah…pesan moral dari cerita diatas adalah…
Kecerdikan Babi Hutan, Naluri Survival Babi Hutan, sudah “dibeli” oleh Pak Tua itu dengan “Makan Siang Gratis”.

Kehidupan kita pun sama…jika kita sudah terbiasa dengan “Makan Siang Gratis” , segalanya didapat instan, tanpa usaha, tanpa kerja…hati-hati, Lur…itu tandanya, Kita lagi dalam proses “dikandangkan” oleh kehidupan…nggak akan kemana-mana, nggak mencapai apa-apa, & nggak menjadi apapun….dus, patut dicurigai juga : tawaran-tawaran menggiurkan untuk kaya raya instan, tanpa modal, tanpa kerja keras…No Free Lunch, Lur ! Saya sih YESS !!! (IN’dy/kopipagi.online)