Nasionalis yang Agamis !

Kopipagi.online-Kalo direnungkan, dalem banget nih, Lur…

“Berikan pada Kaisar, apa yang menjadi kewajibanmu terhadap Kaisar. Berikan pada Allah, apa yang menjadi kewajibanmu pada Allah.”

Mengejar surga, bukan berarti kita meninggalkan realita…

Mengapa ?

Karena kenyataannya : kita ini tinggal & hidup di dunia, bukan di surga. Karena kenyataannya, hidup di dunia itu, ada tatanan, ada etika, ada nilai nilai kemanusiaan yang sifatnya universal…

Sebagai warga negara : ada hak & kewajiban…bayar pajak, trus 5 tahun sekali nyoblos ikut pemilu, dsb

Sebagai warga sosial : ada keyakinan agama yang berbeda-beda, ada suku & etnis yang punya tradisi berbeda beda…

Sebagai warga Netizien : Ada UU ITE, ada etika dalam menyampaikan pendapat dengan santun…

Dus, Sikap kita mesti bijimana nih ? Kudu ambil tengah-tengahnya….alias kompilasi….walahhhh…opo maneh kuwi…Iman atas keyakinan kita, mestinya di implementasi  dalam kehidupan sehari hari….Kuatnya Iman keyakinan kita mesti diselaraskan dengan hidup berbagsa, bermasyarakat, & ber-medsos yang majemuk…

Mengasihi Allah, & mengasihi sesama manusia, adalah satu kesatuan, nggak terpisahkan,…ibarat dua sisi uang koin…Dengan alasan mengasihi Allah, kemudian kita menolak, membenci atawa bahkan membunuh orang lain…ini nggak bener….Sebaliknya juga : mengasihi sesama, sosialis, namun tanpa melibatkan peran Allah disana…ini juga nggak bener.

Dus, dalam bermasyarakat, mereka mereka yang tidak satu iman, tidak satu etnis dengan kita, akan tetap kita rangkul, kita hargai, kita hormati, karena mereka adalah satu sodara dalam kemanusiaan…

Dus, kita menjadi pribadi yang Nasionalis sekaligus Agamis…Khidmat menyanyikan Indonesia Raya, namun di lain waktu, bisa takzim melantunkan Sholawat Nabi, atau syahdu  mendendangkan Lagu Gereja…Demikian pula dengan sikap yang slalu “hormat pada Bendera Merah Putih, Bendera Nasional Indonesia”, bukan menajiskannya dengan dalih agama….Saya sih YESS !!! (IN’dy/kopipagi.online)